Loading...

Diskusi KPPTI 2025 Jabarkan Urgensi Transformative Learning dan Research-Based Learning di Perguruan Tinggi


SURABAYA—Di tengah derasnya arus pengetahuan global dan kebangkitan Kecerdasan Buatan (AI), pendidikan tinggi berada pada titik krusial. Strategi akademis harus diubah: dari sekadar mengisi pikiran menjadi melatih olah pikir. Inilah yang mendorong pentingnya adopsi ‘Transformative Learning and Research-Based Learning’ sebagai fondasi untuk memastikan lulusan mampu mengolah pengetahuan yang melimpah guna menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.

Topik krusial ini menjadi fokus utama dalam Diskusi Paralel #1 Hari Kedua Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025. Forum yang membahas bagaimana membekali lulusan agar mampu menghadapi tantangan di era di mana kecerdasan diukur dari kemampuan untuk berubah ini, menghadirkan pakar-pakar akademik terkemuka pada Kamis, 20 November 2025: Irfan Iskandar dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Widodo dari Universitas Brawijaya (UB), Suyanto dari Telkom University, dan Emma Suryani dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK).

Dari Knowledge Menuju Problem Solving

Dalam sesi diskusi tersebut, Irfan Iskandar, Wakil Rektor UNJ, menyampaikan bahwa saat ini dunia telah mengalami keadaan yang berubah dengan cepat, sulit diprediksi, tidak menentu, dan multitafsir. Ia menyoroti efektivitas metode pengajaran.

“Metode pembelajaran dengan metode ceramah hanya menghasilkan retensi informasi 5%, berbeda dengan active learning yang menghasilkan retensi yang lebih tinggi,” ujarnya.

Widodo, Rektor Universitas Brawijaya, menyoroti kesenjangan signifikan antara jumlah lulusan sarjana di Indonesia dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Ia menegaskan, perguruan tinggi perlu didorong untuk melakukan transformasi agar setiap lulusan siap bekerja pada bidang formal maupun informal, terutama di sektor yang membutuhkan pengetahuan IT, digital, dan AI pada semua sektor.

“Pendidikan harus ditransformasikan dari sekedar memberikan knowledge menjadi medium mentransformasi knowledge untuk menyelesaikan masalah,” paparnya.

Strategi Personalized Learning

Suyanto, Rektor Telkom University, menjelaskan strategi kampusnya dalam membangun personalized learning journey menggunakan teknologi AI dan Big Data. Namun, ia memberikan penekanan unik pada fondasi akademik.

Ia melanjutkan, pada tahun pertama, mahasiswa dilarang menggunakan AI sama sekali, dengan lebih memfokuskan untuk para mahasiswa dapat menumbuhkan kembali tiga keterampilan dasar: reading, writing, dan storytelling.

“Dengan melatih mahasiswa membaca buku cetak dibandingkan buku digital akan menumbuhkan empati dan kemampuan memformulasikan gagasan kompleks menjadi tulisan ringan,” tambahnya.

Terakhir, Emma Suryani, Wakil Rektor ITK, menuturkan bahwa tujuan dari adanya transformasi ini adalah untuk mendukung konsolidasi ekosistem pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045.

“Perguruan tinggi perlu berfungsi sebagai pusat penciptaan pengetahuan, inovasi sosial, dan agen transformasi masyarakat demi mendukung Indonesia Emas 2045,” jelasnya, menutup sesi. ][

 

Tim Humas KPPTI 2025

Translate »