Unair, Unpad, UMS, dan Unram Sharing Strategi Menjawab Tantangan Sektor Pangan dan Kesehatan

SURABAYA—Kualitas kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan nasional menjadi perhatian utama perguruan tinggi (PT) Indonesia, mendorong diluncurkannya beragam program dan inovasi. Upaya menghadirkan solusi nyata di sektor vital ini menjadi komitmen kampus yang ditekankan dalam Diskusi Paralel #2 Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025.
Forum yang berfokus pada “Solusi untuk Kesehatan dan Pangan” yang berlangsung pada Kamis, 20 November 2025, di Gedung Fakultas Psikologi Lt.7 Ruang Collab Smart Classroom Unesa ini menjadi ajang bertukar program riset berdampak yang dipaparkan empat delegasi, yaitu Muhammad Miftahussurur dari Universitas Airlangga (Unair), Hadiyanto dari Universitas Diponegoro (Undip), Harun Joko Prayitno dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Akmaluddin dari Universitas Mataram (Unram).
Meruntuhkan Ego Sektoral Kesehatan dan Kemandirian Farmasi
Muhammad Miftahussurur, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UNAIR, menyoroti bahwa transformasi kesehatan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tetapi juga pada perombakan mentalitas tenaga medis melalui Interprofessional Education (IPE).
Ia menjelaskan, risetnya tertuju pada upaya meruntuhkan “ego sektoral” dengan mewajibkan mahasiswa dari empat fakultas berbeda—Kedokteran, Keperawatan, Farmasi, dan Kesehatan Masyarakat—untuk berkolaborasi menangani kasus riil, seperti penanganan Tuberkulosis (TB).
Miftahussurur menekankan urgensi metode ini. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa medical error sering terjadi bukan karena dokternya tidak pintar, atau perawatnya tidak terampil, tetapi karena miscommunication. Hal ini menegaskan bahwa keselamatan pasien sangat bergantung pada komunikasi antarprofesi sejak masa perkuliahan.
Di sisi hilirisasi, sinergi ini melahirkan terobosan nyata bagi kemandirian farmasi nasional, mulai dari produksi vaksin Inavac hingga pengolahan limbah cangkang udang menjadi Glukosamin untuk mendukung target penurunan angka stunting. “Jangan biarkan mahasiswa kita menjadi ‘alien’ bagi profesi lain. Kenalkan mereka, kolaborasikan mereka sejak dini, supaya saat lulus nanti mereka siap menjadi tim kesehatan yang solid,” tandasnya.
Desalinasi Hibrida sebagai Solusi Air di Pantura

Hadiyanto, Direktur Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Konektivitas Global Undip, menyoroti ancaman serius penurunan muka tanah (land subsidence) dan intrusi air laut yang melanda pesisir utara Jawa. Ia menjelaskan, menghadapi kondisi darurat di wilayah “sabuk merah” kekeringan, UNDIP meluncurkan terobosan teknologi Desalinasi berbasis Reverse Osmosis (RO) yang terintegrasi dengan sistem energi Hibrida.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada integrasi sumber daya listrik PLN dengan Panel Surya (Solar PV), yang terbukti mampu menekan Biaya Operasional (OPEX) hingga 35%.
“Tantangan terbesar desalinasi biasanya adalah biaya energi yang tinggi. Oleh karena itu, inovasi kami menerapkan sistem Hibrida; Tujuannya adalah untuk menekan biaya operasional agar harga air yang dihasilkan tetap terjangkau bagi masyarakat pedesaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, inovasi ini juga menyentuh aspek ketahanan pangan melalui konsep ekonomi sirkular, di mana air buangan (brine) dimanfaatkan untuk budidaya ikan Nila Salin.
Diversifikasi Pangan Fungsional dan Sustainable Living
Harun Joko Prayitno, Rektor UMS, memaparkan inisiasi pembentukan Konsorsium Riset Bidang Pangan PTMA dan mendorong kolaborasi Triple Helix bersama BPOM RI. Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan impor melalui diversifikasi pangan fungsional, salah satunya dengan meluncurkan inovasi Beras Analog yang diformulasikan dari campuran pati garut, mocaf, tepung jagung, dan rumput laut.
Produk ini memiliki indeks glikemik rendah yang krusial bagi kesehatan masyarakat. “Latar belakangnya sederhana, kita ingin mengurangi ketergantungan impor; Jadi ini beras sehat, bukan sekadar pengenyang,” terangnya.

Di sektor farmasi, UMS juga menghadirkan terobosan berupa cangkang kapsul berbahan dasar Tepung Porang (Konjac) sebagai solusi alternatif gelatin hewani yang menjamin aspek kehalalan. Ini merupakan komitmen UMS agar karya akademis tidak berhenti di publikasi semata. “Intinya, UMS mendorong agar riset tidak hanya selesai di laboratorium, tapi berdampak nyata untuk masyarakat dan berkelanjutan secara ekonomi maupun ekologis,” pungkasnya.
Integrasi Ternak dan Tanaman untuk Kedaulatan Pangan Lokal
Terakhir, Akmaluddin, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNRAM, mengorientasikan strategi “Kampus Berdampak” pada pemanfaatan sumber daya lokal di wilayah lahan kering Nusa Tenggara Barat. Sorotan terbesar tertuju pada inovasi integrasi peternakan sapi Bali dengan tanaman lamtoro varietas Tarramba.
Akmaluddin menegaskan data keberhasilan ini. “Penggemukan sapi Bali dengan pakan lamtoro menghasilkan kenaikan bobot harian mencapai 0,4 hingga 0,6 kg per ekor, meningkat tajam dari sebelumnya yang hanya 0,2 kg per ekor, sehingga sapi dapat mencapai berat potong 300 kg dalam umur 24 bulan,” paparnya.
Dampak ekonominya juga sangat nyata bagi peternak, dengan profitabilitas 67% lebih tinggi dibandingkan penggemukan tanpa lamtoro. Unram juga memperluas diversifikasi pangan fungsional melalui komoditas porang dan rumput laut, melahirkan produk konkret seperti roti low gluten berbahan sorgum serta biskuit khusus pencegah stunting.
“Model sinergi antara tanaman dan ternak serta kolaborasi riset ini menciptakan triple win, yaitu membangkitkan potensi ekonomi lokal, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta menjamin keberlanjutan ekosistem,” pungkasnya. []
Tim Humas KPPTI 2025