Kolaborasi Kunci Indonesia Emas 2045: Perguruan Tinggi Perluas Akses dan Dampak Lewat Kemitraan dengan Daerah

SURABAYA—Kolaborasi pemerintah pusat dengan daerah, dan perguruan tinggi merupakan suatu keniscayaan dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Hal itu ditekankan dalam sesi diskusi paralel #2, hari kedua, Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), pada Kamis, 20 November 2025.
Diskusi dengan topik “Kemitraan dengan Daerah, dan Perluasan Akses” yang dihadiri delegasi dari perguruan tinggi se-Indonesia itu menghadirkan tiga pembicara dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Politeknik Negeri Batam (Polibatam), Universitas Papua (Unipa), dan UPN Veteran Jawa Timur.
Agus Jatnika Effendi, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Pengembangan ITB menyampaikan bahwa pengembangan multi-kampus adalah cara strategis untuk mendekatkan diri secara fisik terhadap kebutuhan masyarakat dan komunitas setempat.
Ia memaparkan bahwa setiap kampus memiliki tujuannya masing-masing, bahkan kampus ITB yang berada di Jakarta menjadi sumber pendapatan terbesar bagi ITB karena interaksinya yang intens dengan dunia profesional.
“Inovasi tidak hanya berhenti pada jurnal atau karya ilmiah, namun harus berdampak nyata terhadap masyarakat,” tandasnya.

Bambang Hendrawan, Direktur Polibatam pada sesi itu sharing tentang strategi pengembangan dan pengelolaan Polibatam. Ia menjelaskan bahwa lokasi Polibatam berada pada posisi strategis, sangat kondusif untuk pengembangan politeknik karena berada di kawasan industri.
Ia menuturkan, Polibatam telah menerapkan program magang 1 tahun untuk para mahasiswanya sejak tahun 2018, bahkan sebelum adanya program MBKM.
Program ini memberikan feedback positif bagi perusahaan mitra karena adanya peningkatan produktivitas. “Polibatam berupaya mengatasi ketimpangan ekonomi di provinsi Kepulauan Riau dengan membangun ekosistem kemitraan yang berbasis pengembangan teknologi.” Pungkasnya.
Zainal Abidin Achmad dari UPN Veteran Jawa Timur, fokus menyoroti program pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) yang mereka gagas berdampak pada isu internasional dan nasional.

Ia menjelaskan beberapa fokus utama program berdampak mereka dari tahun 2020 hingga 2024, yaitu: Desa Mandiri (berfokus pada digitalisasi desa, pendidikan berbasis teknologi, dan sumber daya lokal); Pesantren Berdaya (berfokus pada inovasi pesantren, digitalisasi wirausaha berbasis komunitas, dan media edukatif); serta Ecosmart Nusantara (berfokus pada pengelolaan limbah, energi alternatif, dan indikasi lingkungan).
“UPN berkomitmen untuk mendampingi setiap desa minimal 3 tahun agar tahapannya bisa naik dari rintisan, pengembangan, hingga pemantapan,” terangnya.
Sementara itu, Jonni Marwa, Wakil Rektor 1 Universitas Papua (Unipa) memaparkan komitmen Unipa untuk mengembangkan produk unggulan lokal dan mengimplementasikan hasil riset kepada masyarakat. Ia menjelaskan salah satu inovasi pendidikan yang dikembangkan adalah program SSH (Sehat, Senang, Hijau), sebuah inovasi pembelajaran untuk tingkat sekolah dasar dengan tujuan mengatasi tingginya angka putus sekolah di Papua.
Ia mengungkapkan, bahkan sebelum adanya program makan bergizi gratis dari pemerintah, Unipa melalui program SSH pada tahun 2021 telah memulai program ini di sekolah SD Kabupaten Sorong. “Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis masyarakat cukup tinggi, sekitar 109 mahasiswa dari empat fakultas dalam kegiatan kolaborasi dengan beberapa lembaga,” jelasnya. ][
Tim Humas KPPTI 2025