Sesi Diskusi Paralel KPPTI Tegaskan Kontribusi dan Inovasi Perguruan Tinggi sebagai Solusi Energi dan Sanitasi Nasional

SURABAYA—Perguruan tinggi di Indonesia kini menegaskan peran sentralnya dalam mengatasi tantangan nasional, terutama di sektor energi dan sanitasi yang masih belum merata. Melalui riset, inovasi, dan hilirisasi teknologi, kampus-kampus menunjukkan komitmen dan kontribusi sebagai solusi nyata yang berdampak baik secara sosial maupun komersial, menjadi kunci penggerak pembangunan nasional.
Peran strategis ini dibahas tuntas dalam forum diskusi paralel #2 hari kedua Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025, yang mengusung topik “Solusi untuk Energi dan Sanitasi” pada Kamis, 20 November 2025. Diskusi yang menekankan inovasi aplikatif agar implementasi riset bisa berjalan sampai ke masyarakat ini menghadirkan tiga narasumber dengan kekuatan dan konteks berbeda: Amar dari Universitas Tadulako (Untad), Astari Dwiranti dari Universitas Indonesia (UI), dan Noval Lilansa dari Politeknik Manufaktur Bandung (Polman).
Fokus 1: Ketahanan Pasca-Bencana dan Inovasi Berbasis Lokal
Amar, Rektor Universitas Tadulako (Untad) membuka paparannya dengan menjelaskan kondisi geografis unik Sulawesi Tengah, yang dilalui oleh garis Katulistiwa, garis patahan Palukoro, dan Selat Makassar. Ia menjelaskan bahwa karakteristik ini mendorong Untad fokus pada ketahanan energi dan sanitasi pascabencana.

Di tengah ketahanan energi, kebutuhan energi terbarukan, akses sanitasi yang layak, dan kualitas air bersih. Untad merespons itu dengan mengembangkan berbagai solusi riset berbasis kebutuhan lokal, seperti studi kelayakan PLTS, pemanfaatan energi angin, dan riset biomassa untuk air bersih dan sanitasi, termasuk inovasi pemurnian air menggunakan kulit durian sebagai arang aktif.
“Inisiatif ini dilaksanakan dengan kolaborasi internasional dan melibatkan masyarakat lokal, karena apa gunanya kalau semua yang besar jika tidak mampu dijalankan dengan baik oleh masyarakat,” tandasnya.
Fokus 2: Hilirisasi Riset dan Integrasi Akademik-Sosial
Astari Dwiranti dari Universitas Indonesia (UI), menjelaskan bahwa transformasi di UI, khususnya dalam konteks kampus berdampak, kini memastikan riset memiliki dampak nyata. Ia menjelaskan, UI memiliki tiga direktorat untuk riset dan inovasi, memastikan downstreaming research agar riset menghasilkan produk yang bermanfaat.
Ia melanjutkan, inovasi di sektor energi perlu ditopang kekuatan riset yang berkualitas. Untuk itu, terdapat 744 publikasi sektor energi yang dihasilkan UI, sementara terkait sanitasi ada 83 publikasi, dengan 66 dosen terlibat lintas fakultas. “Sekarang sudah bukan silo-silo lagi, Sosum pun berkolaborasi dengan saintech dan kesehatan,” tegasnya.

Dalam konteks hilirisasi, ia mencontohkan studi kelayakan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir, pengembangan synthetic gas dari biomassa sampah kota, optimasi konsumsi energi pada kereta hybrid (bekerja sama dengan PT Inka), serta pengembangan biodigestor untuk mengubah limbah menjadi energi listrik (bekerja sama dengan PT Python Energy). Strategi yang dilakukan UI mencakup excellence in publication, hilirisasi teknologi, dan inovasi sosial yang berdampak luas.
Fokus 3: Vokasi Berbasis Produksi dan Pengganti Impor
Noval Lilansa dari Politeknik Manufaktur (Polman), menjelaskan bahwa Polman berakar pada pola pendidikan production-based education, yaitu membawa permasalahan industri ke kampus. Visi penelitian dan pengabdian Polman adalah Advance Manufacturing, Sustainable, and Intelligent.
Adapun beberapa praktik terbaik Polman dalam hilirisasi, antara lain kerja sama dengan PT Paku Akuina dalam pengembangan cetakan pelek mobil lokal yang mengurangi impor dan konsumsi energi. Ia juga menyebut Polman mengembangkan sistem pemantauan debit air berbasis LoRaWAN, yang mensubstitusi alat impor yang mahal.
Inovasi vokasi lainnya adalah membangun ekosistem kopi berkelanjutan, mulai dari green bean hingga roasting yang telah dipatenkan dan siap ekspor ke Jepang. Noval Lilansa menekankan bahwa pendekatan Polman bersifat iteratif dan berbasis masalah (problem-driven), dengan produk yang dihasilkan diarahkan untuk berdampak pada industri dan masyarakat. []
Tim Humas KPPTI 2025